ads

REBO WEKASAN (Rabu akhir bulan shafar) besok 09 Desember 2015




 Di kota Tarem , Hadhromut , Sayyidinal Habib Abdullah bin Muhammad bin Alawiy bin Syihab akan sibuk selama Rabo Wekasan . Para penduduk negeri dan para kaum Baduwi akan berdatangan ke kediaman beliau untuk meminta air yang yang telah beliau doakan untuk tolak balak .
.
.
Sebagaimna di dalam Kanzun Najah , syech Abdul Hamid al Quudsy menukil amaliyah para salaf yang selama Rabo Wekasan mereka membuat azimat sesudah melakukan Shalat 4 Rakaat :
.
SALAMUN QOULAN MIN ROBBIR ROHIM
SALAMUN ALA NUHIN FIL ALAMIN
SALAMUN ALA IBROHIM
SALAMUN ALA MUSA WAHARUN
SALAMUN ALA ILYASIN
SALAMUN ALAIKUM TIBTUM FADHULUHA KHOLIDIN
MIN KULLI AMRIN SALAMUN HIYA HATTA MATLAAL FAJR
.
.
Kemudian azimat ini diilebur kedalam air dan diminum , insyaallah akan aman dari mara bahaya di hari Rabo Wekasan tersebut hingga satu tahun penuh sesudahnya.
.
.
Dalam ranah keilmuan , Al Imam Ibnu Hajar al Haytamiy menulis bahwa membuat azimat hukumnya boleh jika berupa ayat-ayat alQur’an atau nama-nama yang mulia seperti Nama nabi / Malaikat misalnya .
Jika azimat menggunakan kata / kalimat yang tidak difahami arti / maknanya maka hukum azimat semacam ini haram , karena dikhawatirkan kalimat / kata tersebut didalamnya mengandung unsur keharaman / kemusyrikan yang tidak diketahui oleh penulis azimatnya .
.
.
Dalam satu majlisnya , Habibana Salim as Syathiriy berkata :
“ Memakai Al Qur’an dan doa-doa Nabawiyyah sebagai media pengobatan mempunyai macam-macam cara . Hukumnya juga diperdebatkan diantara ulama .
Cara pertama adalah dengan membacanya didekat orang yang sakit atau di bagian yang sakit , maka para Ulama bersepakat hukumnya boleh ( jawaz ) . Hal ini sudah jelas dan dalil-dalilnya pun banyak .
Allah Ta’ala berfirman : “ Wanunazzilu minal qur’ani ma huwa syifa’un warohmatun lil mukminin …. Dan Kami turunkan dari al Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman . “
.
.
Cara kedua adalah dengan menulisnya dan membawanya . Cara ini terhitung baik , namun hukumnya khilaf baynal ulama.
.
.
Cara ketiga adalah dengan menulisnya dan meleburnya kedalam air , bisa jadi untuk di minum ataupun yang lainnya . Cara seperti ini hukumnya juga Khilaf . Tetapi banyak ulama yang memperbolehkannya dan sebagihan Tabi’in ada yang melakukannya .
.
.
Cara keempat adalah dengan menulisnya dan membakarnya . Sebagihan Ulama memperbolehkannya , sebagian lainnya mengharamkannya.
.
.
Kesimpulannya , yang sepakat boleh adalah dengan membacanya . Adapun dengan membawanya sebagai azimat atau meleburnya kedalam air / bahkan membakarnya maka hukumnya diperselisihkan antara para ulama.
.
Banyak Ulama yang memperbolehkannya . Bahkan Ibnu Qayyim dalam kitabnya Tibbun Nabawiy , menunjukkan banyak dalil-dalil yang menolak pendapat para muridnya sendiri yang mengingkari ( pembuatan azimat ) seperti ini .
.
.
Mereka berseberangan dan menselisihi amaliyah ( perbuatan ) para guru – guru mereka sendiri . Bahkan sebagian dari mereka berkumpul dan bersepakat untuk mencetak kitab – kitab Guru mereka itu dan merubah / menghapus beberapa isi yang ada di dalamnyya.
Sungguh , seorang penyalin yang merubah isi kitab aslinya adalah musuh utama sang pengarangnya. “
.
.
Tentang al Habib Abdullah bin Muhammad Bin Syihab , kita mesti menengok kebelakang tentang Enjid ( Kakek ) beliau , yakni seorang Wali Qhuthub yang agung bernama Al Habib Alawiy bin Abdullah bin Syihab . Salah satu tokoh yang penah memegang tampuk kepemimpinan Rubath Tarem khususnya , dan kota Tarem pada umumnya .
.
.
Beliau mempunyai seorang putra bernama Muhammad. Meskipun orang saat melihat keagungan al Habib Alwi maka mereka akan merasa takjub , beliau malahan berkata. Sebuah perkataan yang menunjukkan bahwa Birrul Walidain adalah sebuah Ibadah / amal yang sangat tinggi nilainya . Beliau berkata :
.
“ Anakku , si Muhammad ini , maqam kedudukannya lebih tinggi dari maqam kedudukanku. Hal itu karena berbaktinya dia dengan diriku sebagai orangtuanya . Sesuatu yang tidak bisa aku lakukan dengan sempurna . “
.
.
Diriwayatkan bahwa al habiib Muhammad ini setiap harinya tidak pernah berpisah dengan ayahnya . Mengurus segala kebutuhannya dan tidak akan beranjak pergi kecuali jika ayahnya telah tertidur .
.
.
Adapun al Habib Alwi sendiri , beliau tidak dapat sempurna berbakti dengan ayahnya yakni alhabib Abdullah bin syihab , konon malah tidak pernah bertemu dengannya . Karena al Habib Abdullah ini selalu saja berpergian ke tempat yang jauh , bahkan beliau al habib Abdullah bin Syihab akhirnya menetap di Palembang dan wafat serta dikuburkan di sana .
.
.
Saat mutakhir ini , dikota Tarem nyaris al habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Syihab yang paling dituakan . menjadi rujukan segala lapisan masyarakat . Beliau dari segi penampilan jasad lahiriyyah , tentang cara berpakaian , wajahnya , tubuh serta gesturnya dan juga penampilan bathiniyyah sangat mirip dengan kakek beliau , al quthub Alwi bin Abdullah .
.
.
Al Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith Madinah , jika melihat diri al Habib Abdullah , seringkali beliau tidak mampu menahan tangisnya . teringat akan sosok agung , Sayyidinal Habib Alwi bin Syihab dahulu kala .
.
.
Dan begitu pentingnya sosok Al Habib Abdullah , beliau sampai belum mendapatkan ijin dari Baginda Rasulullah SAW untuk keluar dari kota Tarem , kecuali saat menunaikan Ibadah Haji .
.
.
Banyak tokoh – tokoh utama yang menyatakan bahwa : “ Al Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi ini salah satu dari seorang Shalihin yang telah sampai derajat berjumpa dengan baginda Nabi SAW dalam keadaan terjaga . “
.
.
Ya~ Tarem Wa ahlaha~

sumber : https://www.facebook.com/abdurrochim.kholil

0 Response to "REBO WEKASAN (Rabu akhir bulan shafar) besok 09 Desember 2015"

Posting Komentar

wdcfawqafwef